Aparture pada camera

Aperture & shutter speed adalah dua hal mendasar yang harus dikuasai jika ingin menggunakan sebuah kamera. Dengan catatan, kamera yang kita gunakan dapat disetting manual, seperti pada kamera SLR, DSLR, dan beberapa kamera pocket yang terdapat fitur manual. Selanjutnya adalah ISO, di mana ISO akan berpengaruh terhadap settingan aperture dan shutter speed.

Aperture
Aperture atau bukaan lensa, disebut juga diafragma, disimbolkan dengan huruf f pada lensa. Pengaturan aperture ini bertujuan untuk menambah atau mengurangi cahaya yang masuk melewati lensa. Cara kerja aperture ini sangat mirip dengan bukaan retina pada mata manusia atau disebut iris. Pada pusat iris terdapat bukaan yang melingkar yang disebut pupil. Diameter pupil akan berkontraksi di lingkungan yang cerah dan akan melebar di lingkungan yang gelap. Hal ini sama dengan apa yang ada di lensa.

Ilustrasi pengaturan bukaan lensa atau aperturestop, biasa juga disebut pengaturan diafragma ditunjukkan pada gambar berikut.

Angka tersebut berlawanan dengan besarnya bukaan lensa, misalnya f/1 memiliki bukaan lensa yang lebih besar dibanding f/2,8.

Shutter Speed
Dapat diartikan kecepatan rana kamera dalam menangkap cahaya, atau durasi sinar yang mengenai sensor setelah tombol shutter di tekan. Untuk lebih memahami shutter speed, bacalah beberapa pernyataan dibawah.

“Shutter speed lambat, sensor kamera lebih lama terkena cahaya, shutter speed cepat, sensor kamera lebih sebentar terkena cahaya.”

“Jika shutter speed lambat dan objek yang ditangkap bergerak, maka akan menghasilkan gambar yang kabur atau blur. Jika objek yang bergerak diambil dengan shutter speed cepat maka akan terjadi efek freeze, atau objek yang bergerak menjadi diam.”

“Jika shutter speed lambat, ditempat yang banyak cahaya, maka akan dihasilkan gambar yang over exposure atau kelebihan cahaya. Jika di tempat yang rendah cahaya, digunakan shutter speed cepat maka gambar yang di hasilkan akan menjadi under exposure atau gelap.”

ISO
ISO adalah sensitifitas atau kepekaan sensor kamera dalam menangkap cahaya. Semakin tinggi ISO maka sensor akan semakin peka terhadap cahaya. Tinggi atau rendahnya ISO dapat disesuaikan dengan keadaan cahaya sekitar, sebagai contoh di siang hari yang terik, ISO rendah sudah mencukupi, berlawanan dengan keadaan malam hari yang minim cahaya, maka diperlukan ISO tinggi. ISO ini juga berpengaruh terhadap noise atau kotoran yang ada pada gambar. Kamera-kamera DSLR entry level umumnya dibekali dengan sensor yang kurang bersahabat dengan noise jika menggunakan ISO tinggi pada tempat yang minim cahaya. Umumnya pada ISO 800 atau 1600 dengan kompresi JPEG, gambar sudah unacceptable. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan kompresi RAW, tetapi tetap saja noise nya masih cukup mengganggu. Berbeda dengan kamera DSLR Hi-End yang ditujukan bagi para profesional, noise nya masih bersahabat walaupun menggunakan ISO tinggi dan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: