KALIMAT

PENGERTIAN KALIMAT
Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat.
UNSUR KALIMAT
Unsur kalimat adalah: Subyek (S), Predikat (P), Obyek (O), dan Keterangan (K).
    A. Subyek: Subyek adalah unsur kalimat yang menunjukkan pelaku.
     Subyek dapat berupa
              1) kata benda atau kata yang dibendakan (frasa nominal)
              Contoh:
              Pertemuan itu  ditunda sampai minggu depan. (Subyek, Pertemuan itu, kata benda)
              Panasnya sangat menyengat. (Subyek,  Panasnya, kata keadaan yang dibendakan)
            Mahasiswa yang pemalu itu memenangkan lomba melukis. (Subyek,  Mahasiswa yang pemalu itu, frasa nominal)
            2) Subyek disertai kata ganti penunjuk, ini, itu, dan tersebut yang ditempatkan di antara subyek dan predikat, bahkan kata ganti penunjuk itu sendiri dapat bertindak menjadi subyek.
              Contoh:
               Perhiasannya anggun. (Meja itu, subyek)
               Itu perhiasan anggun. (Itu, subyek)
               3) Subyek berupa jawaban atas pertanyaan apa yang dan siapa yang.
               Contoh:
               Buku itu  saya serahkan.
               Saya menyerahkan  buku  itu.
               4) Subyek boleh didahului kata tugas, yaitu kata depan dan kata penghubung,
kecuali bahwa. Kata tugas ini berfungsi untuk memperluas kalimat.
                Contoh:
      Sudah kami ketahui bahwa ia tidak datang.
Telah  terbukti bahwa ia mencuri.   
Dari hasil laboratorium diketahui  bahwa golongan darah mereka sama.
5) Subyek dapat diberi keterangan pewatas yang Keterangan pewatas yang ditempatkan di belakang kata atau kelompok kata yang bertindak sebagai subyek.
Contoh:
Icuk Sugiato yang juara dunia bulu tangkis tahun 1983 kalah lagibertanding dengan Yang Yang.
      6)  Subyek dapat dihilangkan dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Mereka ingin pulang karena (mereka) sudah terlalu letih.
Mereka ingin pulang karena sudah terlalu letih.
Dia bukan dokter melainkan (dia) produser film.           
                         Dia bukan dokter melainkan produser film.            
     B. Predikat:
Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu subyek melakukan apa atau subyek dalam keadaan bagaimana. Predikat dapat berupa kata atau   frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi dapat pula nomina atau frasa nominal.
1)  Predikat berupa kata (kata benda,  kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan) dan kelompok kata.
Predikat ditempati oleh lima kelas kata atau kelompok kata sbb.:
a)      Predikat berupa kata benda atau frasa nomina
                                    Mereka itu mahasiswa.
                                    Bapak itu pimpinan perusahaan
b)      Predikat berupa kata kerja atau frasa verba
                                    Mereka belajar di teras rumah.
            Dia datang memenuhi janjinya.
c)      Predikat berupa kata sifat atau frasa ajektiva.
                                    Mereka malas ke sekolah pagi ini.
                                    Harganya mahal sekali. 
d)      Predikat berupa kata bilangan atau numeralia.
                                    Kenaikan rata-rata 5 %.
                                    Jumlah penonton sekitar seribu orang.
2)      Predikat itu merupakan jawaban atas mengapa atau bagaimana.
Mereka sedang berdiskusi.
Pertemuan itu kurang menarik.
3)      Permutasian Predikat dengan Subyek
                        Dosen itu datang terlambat.
                        Datang terlambat dosen itu.
4)      Predikat dapat didahului kata (-kata) keterangan aspek atau modalitas.
                      Orang itu (sudah, akan, belum, telah) menjadi wartawan terkenal di ibukota.
5)      Peran dalam predikat
Peran predikat dalam kalimat mengungkapkan tiga informasi, yaitu:
a)      Pernyataan
Contoh:
Pedagang terkenal itu anak seorang nelayan. (Predikat berupa frasa nominal)
b)      Perintah
Dalam peran perintah perlu diperhatikan beberapa cacatan penting.
i)              Subyek dapat ditiadakan
ii)             Setiap kalimat diakhiri dengan tanda seru.
iii)           Dapat berupa kata kerja tanpa imbuhan (aus) seperti: pulang, pergi, gerak, dan tenang.
iv)           Partikel  lah mempertegas (kalimat) perintah
v)   Kata-kata seperti: ayo, silahkan, mari, oke, dilarang, jangan, dan harap memperhalus peran perintah menjadi ajakan, permohonan, dan larangan, sepeti contoh:
                                                    Harap tenang!
                                                    Perhatikan baik-baik!
                                                    Jangan dibagikan dahulu!
c)      Pertanyaan
Peran pertanyaan dinyatakan dengan intonasi menaik dan menurun serta tanda tanya (?) dalam kalimat tulis.
Perlu diketahui beberapa hal tentang peran pertanyaan ini.
i)                    Semua kelas kata atau frasa yang menempati predikat dapat menyatakan pertanyaan seperti terlihat dalam semua contoh
ii)                  Partikel kah dapat ditambahkan sebagai penekanan
                                    Contoh: Marahkah dia?
iii)                 Dengan merubah intonasi, yaitu intonasi menaik atau menurun,
                           predikat pernyataan dapat menjadi predikat pertanyaan
                                    Contoh:  Dia ke sini kemarin. (Pernyataan)
                                                  Dia kesini kemarin? (Pertanyaan)
iv)                Kata tanya seperti: apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, kapan
dapat ditambahkan dan intonasi kalimat akan menurun.
          Contoh: Apa isi surat ini?    
 C. Obyek
          Unsur Obyek melengkapi kesempurnaan kalimat aktif transitif.
               Kehadiran Obyek merupakan suatu keharusan.
              1)  Obyek hanya terdapat dalam kalimat aktif transitif
                                    Contoh: Nurul menimang adik.
                                                  Dia menceritakan pengalamannya.
  2)        Obyek selalu terletak di belakang predikat dengan pola
                        subyek – predikat – obyek atau pola predikat – obyek – subyek.
                                    Contoh: Mereka mendiskusikan GBHN
                                                  Mendiskusikan GBHN mereka?
3)      Obyek tidak boleh didahului oleh kata depan atau kata penghubung kecuali  kata bahwa yang sebenarnya lebihmenunjukkan kenominalan obyek
                                     Contoh: Dia menceritakan bahwa pengalamannya selama 
                                                   setahun di tahanan lebih banyak dukanya daripada
                                                   sukanya. 
4)      Obyek ditempati oleh jenis kata benda, frasa nomina, dan klausa nomina. Obyek dalam kalimat aktif transitif dapat berubah menjadi subyek dalam kalimat pasif dengan pergantian awalan me- menjadi awalan di- pada unsur predikat.Tetapi, tidak semua kalimat pasif mempunyai obyek. Selain itu, obyek pada kalimat aktif transitif disebut obyek penderita atau yang dikenai tindakan dari unsur subyek.  Obyek yang terdapat pada kalimat pasif merupakan obyek pelaku dengan sasarannya unsur subyek.
   D. Keterangan: Keterangan (Ket. ) adalah bagian kalimat yang menerangkan    berbagai hal tentang bagian kalimat. Unsur Ket. dapat berfungsi menerangkan
               Subyek, Predikat, Obyek, dan Pelengkap. Posisinya dapat di awal, di
               tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket. adalah frasa nominal, frasa
               preposisional, adverbia, atau kausa.
               Contoh:
                            Polisi menyelidiki masalah itu dengan hati-hati.
                            Rustam sekarang sedang belajar.
                            Karena hujan, saya tidak pergi.
POLA KALIMAT DASAR
Kalimat yang paling sederhana berpola S-P, meskipun ada yang hanya berpola P. Yang paling kompleks adalah yang berpola  S-P-O-Pel-Ket.
Contoh:

1.      S-P: Saya mahasiswa.
2.      S-P-O: Rani mendapat hadiah.
3.      S-P-Pel: Beliau menjadi ketua koperasi.
4.      S-P-Ket: Kami tinggal di Jakarta.
5.      S-P-O-Pel: Dia mengirimi ibunya uang.
6.      S-P-O-Ket: Riska menyimpan uang di bank.
7.      S-P-O-Pel-Ket: Rudy membelikan anaknya boneka tadi siang.
MACAM-MACAM KALIMAT
Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara(subordinatif), ataupun campuran (koordiatif-subordinatif).
A. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
1. Mahasiswa berdiskusi
    S: KB + P: KK
2. Dosen ramah
    S: KB + P: KS
3. Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
    S: KB + P: Kbil
Pola 1 adalah pola yang mengandung subjek (S) kata benda (mahasiswa) dan predikat (P) kata kerja (berdiskusi). Kalimat itu menjadi Mahasiswa berdiskusi
                                                                                     S               P
Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (dosen itu) dan berpredikat kata sifat(ramah). Kalimat itu menjadi Dosen itu ramah.
                                                                           S             P
Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (harga buku itu) dan berpredikat kata bilangan (sepuluh ribu rupiah). Kalimat selengkapnya ialah
Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
               S                          P
Memperluas kalimat tunggal kemungkinan diperluas menjadi dua puluh kata atau lebih. Perluasan kalimat itu, antara lain, terdiri atas:

1. keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Yogyakarta, dalam republik itu, dan sekeliling kota;
2. keterangan waktu, seperti setiap hari, pada pukul 19.00, tahun depan, kemarin   sore, dan minggu kedua bulan ini;
3.  keterangan alat seperti dengan linggis, dengan undang-undang itu, dengan sendok dan garpu, dengan wesel pos, dan dengan cek;
4.  keterangan modalitas, seperti harus,barangkali, seyogyanya, sesungguhnya dan sepatutnya;
5.  keterangan cara, seperti dengan hatihati, seenaknya saja, selakas mungkin, dan dengan tergesa-gesa;
6.  keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah.
7.  keterangan tujuan, seperti agar bahagia, supaya tertib, untuk anaknya, dan bagi kita;
8.  keterangan sebab, seperti karena tekun, sebab berkuasa, dan lantaran panik;
9.  frasa yang, seperti mahasiswa yang Ipnya 3 ke atas, para atlet yang sudah menyelesaikan latihan, dan pemimpin yang memperhatikan takyatnya; 
10. keterangan aposisi, yaitu keterangan yang sifatnya saling menggantikan, seperti penerima Kalpataru, Abdul Rozak, atau Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso.

B. Majemuk Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
1.     Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca
Mereka menulis
Kami membaca dan mereka menulis.
2.     Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pertentangan.
Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
3.    Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
4.     Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
C. Kalimat Majemuk tidak Setara
kalimat majemuk tak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain. Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini.
 Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Anak kalimat:
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas.
Induk kalimat:
Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Penanda anak kalimat ialah kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, bahwa, dansebagainya.
D. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat).
Misalnya:
1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
JENIS KALIMAT MENURUT BENTUK GAYANYA (RETORIKANYA)
Menurut gaya penyampaian atau retorikanya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi
tiga macam, yaitu (1) kalimat yang melepas (induk-anak), (2) kalimat yang klimaks (anak-induk), dan (3) kalimat yang berimbang (setara atau campuran).
A. Kalimat yang Melepas
Jika kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama, yaitu induk kalimat dan diikuti oleh unsur tembahan, yaitu anak kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap.
Misalnya:
a. Saya akan dibelikan vespa oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana.
b. Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan dengan tertib dan aman.
B. Kalimat yang Klimaks
Jika kalimat itu disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh induk kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya.
Misalnya:
a. Karena sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya.
b. Setelah 1.138 hari disekap dalam sebuah ruangan akhirnya tiga sandera
warga negara Prancis itu dibebaskan juga.
C. Kalimat yang Berimbang
Jika kalimat itu disusun dalam bentuk majemuk setara atau majemuk campuran, gaya penyajian kalimat itu disebut berimbang karena strukturnya memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang bersimetri.
Misalnya :
1.     Bursa saham tampaknya semakin bergairah, investor asing dan domestik berlomba melakukan transaksi, dan IHSG naik tajam.
2.       Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadat dengan leluasa.
JENIS KALIMAT MENURUT FUNGSINYA
Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci menjadi kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Semua jeis kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif.
A. Kalimat Pernyataan (Deklaratif)
Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik).
Misalnya:
Positif                         : Indonesia menggunakan sistem anggaran yang berimbang.
Negatif                       : Tidak semua bank memperoleh kredit lunak.
B. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan.
Misalnya:
Positif           : Mengapa dia gagal dalam ujian?
Negatif         : Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan bestek yang disepakati?
C. Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik atau tanda seru).
Misalnya:
Positif                          : Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke Pak Sahluddin!
Negatif                     : Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak asasi manusia.
D. Kalimat Seruan
Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis).
Misalnya:
Positif                             : Bukan main, cantiknya.
Negatif                            : Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.
 
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
A. Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai.

1.   Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
2.   Tidak terdapat subjek yang ganda
3.    Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
4.    Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.

B. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
C. Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.

1.      Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
2.      Membuat urutan kata yang bertahap
3.      Melakukan pengulangan kata (repetisi).
4.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
5.      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).

D. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.

1.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek
2.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat  pada hiponimi kata.
3.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
4.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.

E. Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.

1. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
2. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.

Kalimat 1 memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi.
Kalimat 2 memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
F. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.

1.      Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
2.      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
3.      Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripadaatau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.

G. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Perhatikan kalimat di bawah ini.
Kalimat tidak logis (tidak masuk akal)          : Waktu dan tempat kami persilakan.
Yang logis adalah sebagai berikut                : Bapak Menteri kami persilakan.
KALIMAT SALAH DAN KALIMAT BENAR
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
Kalimat benar
Kalimat salah
Untuk mengetahui baik atau
buruknya pribadi seseorang
dapat dilihat dari tingkah
lakunya sehari-hari.
Baik atau buruknya pribadi seseorang dapat
dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari
Semoga dimaklumi.
Semoga Bapak dapat memakluminya
Pekerjaan itu dia tidak cocok
Pekerjaan itu bagi dia tidak cocok
Perkara yang diajukan ke
meja hijau berjumlah 51 buah.
Sedangkan perkara yang telah
selesai disidang-kan
berjumlah 23 buah.
Perkara yang diajukan ke meja hijau
berjumlah 51 buah, sedangkan perkara yang
telah selesai disidangkan berjumlah 23 buah.
Halamannya sangat luas,
rumah paman saya di
Cibubur.
Halaman rumah pamas saya di Cibubur
sangat luas
Sumber
               lecturer.ukdw.ac.id/othie/PengertianKalimat.pdf
               ibahasa.blogspot.com/2008/…/kalimat-dan-unsurkalimat-bahasa.html

About aneneharief

saya seorang mahasiswa di kampus swasta ternama di jakarta. bidang saya Dunia IT, saya juga suka dengan hal2 yang berbau Timur tengah, dan saya juga suka dengan dunia photography

Posted on November 5, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: